Mencari
kebahagiaan disetiap gelap
Saya hanyalah seorang perempuan yang berusaha mencari arti sebuah kebahagiaan yang
sesungguhnya, kebahagiaan yang entah dengan cara apa harus kucari.
Pada 14 september 1996 tepatnya 18th
yang lalu di sebuah desa kecil diujung selatan Kabupaten Malang aku dilahirkan,
mungkin aku sangat bersyukur pada saat itu ketika aku bisa menghirup udara
setelah 9bulan lebih 12hari dalam kandungan sang bunda, terlahir didalam
tengah-tengah keluarga yang mungkin sangat mengharapkan kehadiranku karena aku
adalah anak pertama dan cucu pertama didalam keluarga, aku diberi sebuah hadiah
yang terindah didalam hidupku yaitu sebuah nama Iit pratiwy, entahlah meskipun aku
tidak perna tau apa makna arti yang terkandung dalam sebait namaku, namun
bagiku itu adalah pemberian yang akan memberikanku sebuah Arti untuk hidupku
kelak, dimana saat kakiku mulai melangkah, tanganku mulai ingin menggapai, otakku
mulai berfikir dan hatiku mulai mampu merasakan. Disaat itulah aku akan tau apa
itu hidup.
Pada 2 tahun usiaku aku harus ditinggalkan
Bundaku merantau ke Negara tetangga, entah aku tidak mengerti apa yang terjadi
didalam keluargaku sehingga harus Ibundaku yang mencari Nafkah untuk keluargaku
memang ketika itu aku terlalu kecil untuk memahami yang terjadi, usiaku semakin
bertambah dan Waktu kian berjalan aku semakin mampu untuk tahu hanya tahu dan
masih belum mengerti, titik Gelap itu mulai muncul, hidupku terasa buruk ketika
hari-hariku hanya mendengarkan sebuah kata-kata kasar yang terlontarkan dari
kedua pasang suami-istri yang itu adalah orang tuaku sendiri, ibundakupun
jarang pulang dia suka menghabiskan waktunya di Negara orang, namun saat itu
aku lebih lega mereka berada dalam kejauhan, karena aku tak harus menangis dan
marah setiap hari pada diri sendiri, setiap aku mendengar pertentangan mereka
aku hanya mampu diam,mengunci kamar dan menangis didalamnya. aku berfikir “mengapa
mereka harus menikah? mengapa mereka harus punya aku? jika mereka hanya mampu
bertengkar kenapa itu harus terjadi pada keluargaku?” Berbagai pertanyaan
bersarang dalam otakku yang tidak mampu untuk aku ungkapkan, setiap detik waktu
yang semakin berjalan aku semakin membenci kedua orangtuaku kenapa mereka tidak
bisa memahami aku, dikeluarga ini bukan hanya mereka ber-2 tapi aku juga. Aku
mulai tidak peduli dengan mereka, dengan apapun yang terjadi, mereka berusaha
berpisah namun selalu gagal.
Hingga Pada usiaku yang ke7thun mereka Resmi
Bercerai, dan aku hanya tersenyum sinis untuk itu, aku tidak peduli, itu hidup
mereka itu jalan mereka itu yang berusaha kukatakan dalam hatiku aku berusaha
mengumpulkan segala kekuatanku sendirian, Kegelapan itu semakin terasa, segalanya
terasa semu aku mulai tersungkur merasakan ketidakadilan ini disaat itu aku berjalan
dengan penuh kesedihan, aku melangkah dengan ketidakpastiaan aku bertanya dalam
hatiku “siapa orangtuaku? Inikah orangtuaku? Tapi mengapa mereka tak perna
peduli?” lagi-lagi aku hanya bertanya pada diri sendiri , ketika itu aku hanya
mampu berfikir jika nenek dan kakekku adalah satu-satunya tumpuan hidupku
mereka adalah sosok yang kuat dan tegar aku tidak boleh membuat mereka bersedih
karena mungkin allah memberiku hidup untuk menjadi perempuan yang tegar meski
itu harus dimulai di ketika aku mash kecil, aku bukan anak yang manja, aku
bukan anak yang mudah menunjukkan airmataku pada semua orang, sehingga banyak
dari saudara-saudara ku meledek
“Mana ayahmu gak punya ayah ya? (Nada bercanda)”
“punya.. ”
“terus kemana?”
“dirumahnya”
“itu namanya gak punya, kalau dia ayahmu pasti ada disini hahahaha :D”
“Biarin, gak pp :D” (Aku tertawa)
aku tau saudara-saudaraku hanya bercanda tapi sebenarnya kata-kata itu Miris
terdengar diteingaku.
Aku
semakin tumbuh aku cari setiap kebahagiaanku sendiri dengan caraku, aku telah
LULUS dari bangku SMP Negri 5 kepanjen meski tidak ditemani kedua orangtua di
saat Wisudaku, aku tetap Bersyukur masih ada Paman dan Bibiku yang kuSayangi
lebih dari aku menyayangi Bunda dan ayahku, mereka tidak perna Peduli pada
perhatian-perhatian kecil yang aku harapkan hanya materi materi dan materi yang
mereka cari untuk membahagiakan ku, karena aku terlahir bukan untuk bergantung pada orang tua, aku
bertekad aku juga ingin Bahagia, aku ingin mencari apa itu keadilan aku
memutuskan untuk meninggalkan Rumah, aku ingn hidup dalam Lingkungan Pesantren
meski keinginan itu muncul ketika aku meninggalkan Bangku SD Namun nenekku
melarang karena aku Cucu satu-satunya dalam keluarga Banyak orang
bertanya-tanya kenapa aku justru memilih tempat itu padahal berada dalam
tengah-tengah keluarga lebih Indah dan lebih Bahagia “TIDAK” tidak semua
merasakan itu “Aku ingin mencari kebahagiaan yang hilang” itu Bisik hatiku aku
bertekad ketika aku beranjak ke Sekolah tinggi Atas dengan berkali-kali paksaan
kepada nenek dan kakekku, meski sebenarnya aku tidak Tega namun inilah yang
harus kulalui karena jika aku menginginkan sesuatu tidak mungkin ada satu
orangpun mampu menggoyangkan langkahku.
Akhirnya kini aku Tinggal disebuah Gedung
megah dan indah yang sering orang-orang memanggilnya dengan Penjara Suci yang
berlokasi Daerah timur kota Malang yang disebut dengan desa Ketawang kecamatan
Gondanglegi yaitu Pondok Modern
AL-RIFA’IE 2
“Hari-hariku semakin sepi seakan tak ada lagi sepercik sinar yang
memberiku cahaya,
namun aku mencoba bangun dari kegelapan yang merasukiku,
karena aku yakin suatu saat nanti sinar itu akan kembali lagi padaku, meski
mungkin perjalanan yang aku jalani penuh rintang,
namun demi satu kebahagiaan aku akan menjalaninya,
aku tak akan perna berhenti sampai aku menemukan sinar itu,
sinaran jati diriku yang kini tlah hilang dalam diriku..”
******
Waktu semakin berlalu hingga aku Dewasa, Menjadi perempuan yang tangguh dengan sejuta rasa syukur yang telah Tuhan anugerakahkan untukku, aku percaya disetiap titik gelap dalam hidupku tuhan selalu menyelipkan setiap Kebahagiaan untukku :)