Kamis, 25 Juni 2015

CERPEN


Mencari kebahagiaan disetiap gelap
    
                Saya hanyalah seorang perempuan yang berusaha mencari arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang entah dengan cara apa harus kucari.
Pada 14 september 1996 tepatnya 18th yang lalu di sebuah desa kecil diujung selatan Kabupaten Malang aku dilahirkan, mungkin aku sangat bersyukur pada saat itu ketika aku bisa menghirup udara setelah 9bulan lebih 12hari dalam kandungan sang bunda, terlahir didalam tengah-tengah keluarga yang mungkin sangat mengharapkan kehadiranku karena aku adalah anak pertama dan cucu pertama didalam keluarga, aku diberi sebuah hadiah yang terindah didalam hidupku yaitu sebuah nama Iit pratiwy, entahlah meskipun aku tidak perna tau apa makna arti yang terkandung dalam sebait namaku, namun bagiku itu adalah pemberian yang akan memberikanku sebuah Arti untuk hidupku kelak, dimana saat kakiku mulai melangkah, tanganku mulai ingin menggapai, otakku mulai berfikir dan hatiku mulai mampu merasakan. Disaat itulah aku akan tau apa itu hidup.
Pada 2 tahun usiaku aku harus ditinggalkan Bundaku merantau ke Negara tetangga, entah aku tidak mengerti apa yang terjadi didalam keluargaku sehingga harus Ibundaku yang mencari Nafkah untuk keluargaku memang ketika itu aku terlalu kecil untuk memahami yang terjadi, usiaku semakin bertambah dan Waktu kian berjalan aku semakin mampu untuk tahu hanya tahu dan masih belum mengerti, titik Gelap itu mulai muncul, hidupku terasa buruk ketika hari-hariku hanya mendengarkan sebuah kata-kata kasar yang terlontarkan dari kedua pasang suami-istri yang itu adalah orang tuaku sendiri, ibundakupun jarang pulang dia suka menghabiskan waktunya di Negara orang, namun saat itu aku lebih lega mereka berada dalam kejauhan, karena aku tak harus menangis dan marah setiap hari pada diri sendiri, setiap aku mendengar pertentangan mereka aku hanya mampu diam,mengunci kamar dan menangis didalamnya. aku berfikir “mengapa mereka harus menikah? mengapa mereka harus punya aku? jika mereka hanya mampu bertengkar kenapa itu harus terjadi pada keluargaku?” Berbagai pertanyaan bersarang dalam otakku yang tidak mampu untuk aku ungkapkan, setiap detik waktu yang semakin berjalan aku semakin membenci kedua orangtuaku kenapa mereka tidak bisa memahami aku, dikeluarga ini bukan hanya mereka ber-2 tapi aku juga. Aku mulai tidak peduli dengan mereka, dengan apapun yang terjadi, mereka berusaha berpisah namun selalu gagal.
Hingga Pada usiaku yang ke7thun mereka Resmi Bercerai, dan aku hanya tersenyum sinis untuk itu, aku tidak peduli, itu hidup mereka itu jalan mereka itu yang berusaha kukatakan dalam hatiku aku berusaha mengumpulkan segala kekuatanku sendirian, Kegelapan itu semakin terasa, segalanya terasa semu aku mulai tersungkur merasakan ketidakadilan ini disaat itu aku berjalan dengan penuh kesedihan, aku melangkah dengan ketidakpastiaan aku bertanya dalam hatiku “siapa orangtuaku? Inikah orangtuaku? Tapi mengapa mereka tak perna peduli?” lagi-lagi aku hanya bertanya pada diri sendiri , ketika itu aku hanya mampu berfikir jika nenek dan kakekku adalah satu-satunya tumpuan hidupku mereka adalah sosok yang kuat dan tegar aku tidak boleh membuat mereka bersedih karena mungkin allah memberiku hidup untuk menjadi perempuan yang tegar meski itu harus dimulai di ketika aku mash kecil, aku bukan anak yang manja, aku bukan anak yang mudah menunjukkan airmataku pada semua orang, sehingga banyak dari saudara-saudara ku meledek
“Mana ayahmu gak punya ayah ya? (Nada bercanda)”
“punya.. ”
“terus kemana?”
“dirumahnya”
“itu namanya gak punya, kalau dia ayahmu pasti ada disini hahahaha :D”
“Biarin, gak pp :D” (Aku tertawa)
aku tau saudara-saudaraku hanya bercanda tapi sebenarnya kata-kata itu Miris terdengar dite
ingaku.
 Aku semakin tumbuh aku cari setiap kebahagiaanku sendiri dengan caraku, aku telah LULUS dari bangku SMP Negri 5 kepanjen meski tidak ditemani kedua orangtua di saat Wisudaku, aku tetap Bersyukur masih ada Paman dan Bibiku yang kuSayangi lebih dari aku menyayangi Bunda dan ayahku, mereka tidak perna Peduli pada perhatian-perhatian kecil yang aku harapkan hanya materi materi dan materi yang mereka cari untuk membahagiakan ku, karena aku terlahir  bukan untuk bergantung pada orang tua, aku bertekad aku juga ingin Bahagia, aku ingin mencari apa itu keadilan aku memutuskan untuk meninggalkan Rumah, aku ingn hidup dalam Lingkungan Pesantren meski keinginan itu muncul ketika aku meninggalkan Bangku SD Namun nenekku melarang karena aku Cucu satu-satunya dalam keluarga Banyak orang bertanya-tanya kenapa aku justru memilih tempat itu padahal berada dalam tengah-tengah keluarga lebih Indah dan lebih Bahagia “TIDAK” tidak semua merasakan itu “Aku ingin mencari kebahagiaan yang hilang” itu Bisik hatiku aku bertekad ketika aku beranjak ke Sekolah tinggi Atas dengan berkali-kali paksaan kepada nenek dan kakekku, meski sebenarnya aku tidak Tega namun inilah yang harus kulalui karena jika aku menginginkan sesuatu tidak mungkin ada satu orangpun mampu menggoyangkan langkahku.

Akhirnya kini aku Tinggal disebuah Gedung megah dan indah yang sering orang-orang memanggilnya dengan Penjara Suci yang berlokasi Daerah timur kota Malang yang disebut dengan desa Ketawang kecamatan Gondanglegi  yaitu Pondok Modern AL-RIFA’IE 2
“Hari-hariku semakin sepi seakan tak ada lagi sepercik sinar yang memberiku cahaya,
namun aku mencoba bangun dari kegelapan yang merasukiku,
karena aku yakin suatu saat nanti sinar itu akan kembali lagi padaku, meski mungkin perjalanan yang aku jalani penuh rintang,
namun demi satu kebahagiaan aku akan menjalaninya,
aku tak akan perna berhenti sampai aku menemukan sinar itu,
sinaran jati diriku yang kini tlah hilang dalam diriku..”
                                                                      ******

             Waktu semakin berlalu hingga aku Dewasa, Menjadi perempuan yang tangguh dengan sejuta rasa syukur yang telah Tuhan anugerakahkan untukku, aku percaya disetiap titik gelap dalam hidupku tuhan selalu menyelipkan setiap Kebahagiaan untukku :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar